Angka di bawah adalah rentang perkiraan untuk cafe 30–50 kursi di kota besar Indonesia pada 2026. Rentangnya lebar karena sewa adalah variabel yang paling menentukan, dan sewa berbeda tajam antar kawasan bahkan dalam satu kota.
Modal awal
| Pos | Rentang | Catatan |
|---|---|---|
| Sewa dibayar di muka | Rp60–250 juta/tahun | Kawasan pusat kota bisa jauh di atas ini |
| Renovasi dan interior | Rp80–300 juta | Pos yang paling sering membengkak |
| Mesin espresso + penggiling | Rp45–180 juta | Bekas terawat menghemat 40–50% |
| Peralatan dapur | Rp30–90 juta | Bergantung pada seberapa berat menu makanannya |
| Perabot 40 kursi | Rp25–70 juta | |
| Perizinan dan legalitas | Rp5–20 juta | NIB, sertifikat laik higiene, izin lingkungan |
| Modal kerja 3 bulan | Rp90–200 juta | Jangan dilewati — ini penyebab kegagalan paling umum |
Biaya bulanan
- Sewa: 15–25% dari target omzet.
- Bahan baku: 25–32% dari omzet.
- Tenaga kerja: 20–25% dari omzet, untuk 5–8 orang termasuk shift.
- Utilitas dan internet: Rp6–15 juta.
- Pemasaran: 3–5% dari omzet.
Titik impas dalam satuan cangkir
Menghitung titik impas dalam rupiah membuatnya terasa abstrak. Ubah ke satuan cangkir per hari. Bila total biaya tetap bulanan Rp90 juta dan margin kotor per transaksi Rp22.000, Anda perlu sekitar 136 transaksi per hari untuk impas — angka yang bisa langsung dibandingkan dengan hitungan pengunjung nyata pada minggu pertama.
Tiga hal yang paling sering diremehkan
- Modal kerja tiga bulan. Cafe jarang untung pada kuartal pertama, dan kehabisan kas sebelum sempat dikenal adalah penyebab kegagalan paling umum.
- Biaya pelatihan barista. Kualitas ekstraksi yang tidak konsisten pada bulan pertama merusak ulasan awal yang paling sulit diperbaiki.
- Perawatan mesin. Servis berkala mesin espresso Rp2–5 juta per tahun, dan mengabaikannya berujung pada kerusakan yang jauh lebih mahal.
Ditulis oleh Redaksi Ngopidimana. Tentang tim penilai.